Posted by: resya on: April 2, 2008
Kelihatannya serem juga. Greenpeace kita kenal melalui kapal kecil ‘Rainbow Warrior’ yang mengejar-ngejar kapal besar di laut sebagai symbol perlawanan terhadap kemapanan kaum perusak lingkungan alam. Sampai-sampai ‘Rainbow Warrior’ yang pertama meledak oleh bom ketika sedang memprotes ledakan bom nuklir Perancis di Lautan Pasifik. Kata orang, pemboman itu bukan oleh Al Qaedah tapi oleh intel Perancis. Radikal dan asyik, itu citra Greenpeace. Melawan segala macam kemapanan.

Jadi waktu WW diundang oleh Greenpeace untuk ikut talk show di Monas, IMX agak ragu-ragu menerima. Talk show itu dalam rangka ‘Forest Defenders Camp’ y ang diluncurkan di Riau sebagai bagian dari upaya internasional untuk menyelamatkan hutan dan iklim, menjelang diadakannya negosiasi iklim Protokol Kyoto di Bali bulan Desember nanti. Semua ini dilaporkan oleh Lidya Wangsa, pemenang pertama Blogger Pendatang Baru pada Pesta Blogger 2007 baru-baru ini. Baca posting “Semua Bisa Jadi Satria Pelangi” di blognya Lidya.
Wah serem sekali, menyelamatkan hutan dan iklim, menghadapi Protokol Kyoto di Bali, bersama dengan keturunan pencetus ‘Rainbow Warrior’. Apa nda minder Orang Biasa yang biasanya Sabtu sore milih tempat nongkrong, nonton bareng atau curhat di warnet?

Pameran foto mengenai keganasan perusakan hutan
“Nda, nda minder,” begitu kesimpulan miting di meja rapat IMX di lantai 2 (yang sekaligus merangkap meja makan, meja wawancara dan meja gosip sambil ngumpulin kliping koran). Mengutip semboyan IMX ciptaan Rizka Nurlita yang sering dikumandangkan Melda Wita, IMX is “without limitation.”
Kita tanya Dina Purita, media professional asal Filipina yang menikah dengan fotografer kondang Fikri Jufri (pernikahannya dihadiri WW), apa nggak salah? WW bukan ahli hutan, walaupun tampangnya cocok di hutan. “Oh no,” kata Dina kepada EI komandan IMX, “I am sure he can do it, as long as he comes.”
Dengan penurunan ekspektasi macam begitu, WW semangat datang sebagai Orang Biasa dengan rombongan serdadu IMX yang belum lama menang pertempuran di Pesta Blogger 2007. Hujan rintik-rintik, suasana suram, Dina yang kelelahan setelah tiga hari tidak tidur mengurus FDC Greenpeace, menambah dramatis hari pertemuan untuk penyelamatan hutan dan iklim.
Alam yang suram diimbangi oleh kehangatan suasana, good guys semua kumpul di rumah tenda di tengah Monas. Crew Monas ada yang belum pernah ke Monas sekalian moto-moto.
Pesan orang biasa disampaikan dalam talk show yang dipandu dengan kompeten oleh Olga Lydia. Menurut laporan Lidya Wangsa, “Hadir sebagai nara sumber talk show, Wimar Witoelar dan Leony, bintang sinetron sekaligus penyanyi yang juga menjadi sahabat Greenpeace. Dipandu oleh Olga Lydia, talk show mengalir dengan hangat dan penuh makna, meski diwarnai dengan gerimis yang tak kunjung reda.”

WW menggunakan prinsip sederhana, jangan pernah merasa tidak bisa berbuat, sebab sekecil apapun kemampuan kita, upaya kita bisa mencuptakan energi buat orang lain yang lebih mampu berbuat. Kalau kita cuman bisa ngomong, gunakanlah kemampuan itu sebab orang lain belum tentu bisa ngomong.
Laporan Lidya selanjutnya:
“Saya tidak paham betul soal hutan, tapi saya peduli akan hutan, makanya saya ada di sini mendukung acara ini,” ujar Wimar Witoelar. WW juga menjelaskan bahwa biasanya orang yang peduli akan masalah hutan dan lingkungan hidup jarang yang bersinggungan dengan kekuasaan. Akibatnya mereka menjadi kelompok minoritas yang harus bekerja keras untuk meraih dukungan khalayak ramai. Ditambah lagi isu lingkungan hidup kurang menarik perhatian masyarakat pada umumnya. Oleh karenanya, para aktivis lingkungan hidup harus pandai-pandai menggunakan media untuk menyuarakan aksinya. “Melalui media, kita bisa menciptakan mainstream di tengah masyarakat akan pentingnya hutan,” ujar WW.
Leony yang hadir dengan menggunakan T-shirt khusus dari Greenpeace mengiyakan pendapat dari WW. “Memang, orang-orang sekarang agak kurang peduli pada lingkungan, jadi tugas kita semua untuk mulai menyebarluaskan masalah lingkungan ini, khususnya tentang hutan kita,” ujar mantan penyanyi cilik ini kalem.
Perwakilan dari Greenpeace, Bustar Maitar, juga menjelaskan bahwa FDC ini merupakan upaya internasional yang dilakukan Greenpeace untuk melindungi sisa hutan di dunia dan perubahan iklim global yang diharapkan nantinya akan menjadi pressure bagi negosiasi iklim Protokol Kyoto di Bali, Desember mendatang. “Kami saat ini mengajukan petisi kepada pemerintah dan sedang menggalang dukungan dari mereka yang peduli kepada hutan di Indonesia, yaitu dengan menandatangani petisi* tersebut,” jelas juru kampanye hutan Greenpeace ini.
April 4, 2008 pada 7:19 am
well,
walaupun sekarang lagi gencar”nya orang mempromosikan untuk menjaga lingkungan kita, tapi kalo ga ada niat dari dalam diri kita sendiri, itu sama aja boong. kalo mau bikin lingkungan hidup kita menjadi lebih baik, harus ada niat dari dalam diri kita sendiri dulu. ini bagus banget buat nyadarin orang” bagaimana kondisi lingkungan kita yang sekarang.